Perancis Berseteru Dengan PBB Terkait Kasus Larangan Cadar

Perseteruan mengenai boleh atau tidaknya penggunaan cadar di belahan bumi sebelah barat semakin memanas. Pergunjingan yang terjadi sudah pasti bukannya muncul begitu saja kalau tidak ada penyebabnya. Ibarat kata guru bahasa Indonesia, peribahasa yang tepat adalah tidak mungkin asap mengepul tanpa ada campur tangan api yang membara.

Rasa takut dan kekhawatiran yang berlebihan akan kemunculan penggila agama membuat pemerintah di sana menjadi paranoid. Berkaca dari kasus 911 di Amerika Serikat, pemerintahan Perancis menjadi terlalu waspada dan mengawasi budaya Islam secara ketat. Memang bisa dimaklumi, pasalnya selama ini hampir sebagian besar kelompok teroris dunia membawa embel-embel teologi ajaran Islam sebagai dalil perbuatannya.

Perancis Berseteru Dengan PBB Terkait Kasus Larangan Cadar1

Semenjak merebaknya serangan teror dari kelompok ISIS, Perancis tampaknya tidak senang dengan pemandangan umat muslim perempuan yang menggunakan cadar. Seandainya saja mereka mau membuka diri barang sejenak, seharusnya ketegangan yang terjadi di Perancis mengenai isu SARA tidak perlu mencuat. Saat ini, diperlukan sosok perwakilan umat muslim yang muncul dan mengedukasi masyarakat Perancis tentang asal usul penggunaan cadar.

Menutupi wajah dengan kain tertentu adalah syariat islam yang bertujuan untuk menutupi aurat. Sikap skeptis warga Perancis yang terlanjur mendarah daging, memandang kebiasaan itu sebagai identitas teroris. Orang barat yang biasanya terkenal dengan pemikiran terbuka, mendadak jadi picik dan berpikiran pendek. Padahal seperti yang kita semua ketahui, teroris bisa berasal dari ideologi aliran kepercayaan mana saja.

Perancis Sebagai Negara Pelopor Yang Melarang Cadar

Gara-gara persoalan cadar, Perancis merupakan negara nomor satu yang mempelopori pelarangan menggunakan cadar secara resmi dan lolos perundingan. Bahkan, peraturan perundang-undangan yang membahas tentang regulasi ini sudah sampai tahap ketok palu. Jika anda seorang muslim dan nekat melanggar, maka siapkanlah diri anda untuk mendekam di penjara Perancis.

Perancis Sebagai Negara Pelopor Yang Melarang Cadar

Melihat keputusan sembrono seperti itu, PBB tidak tinggal diam dan langsung menegur keras pemerintahan Perancis. Apa yang diperbuat oleh negara Napoleon itu telah menyakiti hati umat muslim di seluruh dunia. Bukan hanya itu, undang-undang cadar juga merupakan salah satu prakter pelanggaran hak asasi manusia yang berdaulat.

Negara Perancis sebenarnya telah merisaukan perempuan yang bercadar semenjak 2010 silam. Awalnya PBB hanya menyoroti tindakan itu dan memberikan teguran ringan sebagai bentuk peringatan belaka. Ketika dibiarkan, apa yang dilakukan jajaran petinggi Perancis malah makin menggila dan membabi buta bagaikan orang yang ketakutan menonton horor. Setelah bertahun-tahun proses perdebatan yang alot, pada Oktober 2018 akhirnya PBB melayangkan somasi keras terhadap Perancis. Bukan lagi sekedar himbauan, kali ini Perserikatan Bangsa-Bangsa memberi perintah secara tegas bagi Perancis untuk segera merancang ulang undang-undang cadar. Jika masih terbukti ngeyel, posisi Perancis kemungkinan besar akan terancam dikeluarkan dari keanggotaan PBB suatu saat nanti.

Awal Mula Keributan Di Perancis Berkenaan Dengan Larangan Cadar

Semua keributan sengit yang tersebar luas melalui media sosial ke seluruh dunia, berawal dari sekitar tahun 2012. Pada saat itu, dua orang perempuan asal Perancis diadili oleh pihak berwenang karena kedapatan memakai cadar di muka umum. Semenjak saat itu, belasan hingga puluhan wanita muslim bercadar ditangkap satu persatu oleh aparat setempat. Meskipun belum diganjar hukuman bui, namun mereka dipaksa membayar denda senilai 70 euro tanpa diskon sedikit pun. Apabila keberatan, pihak terdakwa diwajibkan masuk menjadi peserta latihan kependudukan Perancis. Dengan kekecewaan yang amat sangat, mereka terpaksa menyisihkan penghasilannya untuk melunasi denda.

Awal Mula Keributan Di Perancis Berkenaan Dengan Larangan Cadar

Setali tiga uang dengan pemerintah, rakyat mayoritas di Perancis turut mendukung peraturan perundang-undangan yang tidak berperi kemanusiaan ini. Semakin lama, makin banyak pula kasus perundungan dan penganiayaan yang terjadi terhadap umat islam di sana. Tak jarang, perempuan bercadar akan mendapat tatapan jijik dan dikucilkan dari lingkungan sosial sekitar. Tak tahan dengan tekanan kuat dari berbagai arah, sebagian besar wanita ini memilih untuk pasrah. Mereka mengalah dan harus merelakan syariat Islam yang selama ini dipegang teguh. Bagi mereka, lebih baik melepas cadar dan bisa hidup tenang, daripada hidup dengan rasa takut diburu banyak orang.

Pemerintah Perancis mengumandangkan alasan yang tidak masuk akal di balik kebijakan pelarangan cadar tersebut. Berkali-kali mereka mengiklankan himbauan sosial melalui stasiun televisi maupun siaran radio. Pemerintah berdalih bahwa apa yang mereka lakukan semata-mata demi ketentraman dan kesejahteraan rakyat Perancis. Menutup wajah dengan kain dianggap sebagai bentuk penolakan bergaul alias sikap anti sosial oleh umat muslim.

Kaum bercadar ini dianggap berperilaku eksklusif dan memisahkan diri dari kehidupan lingkungan sekitarnya. Tuduhan tidak berdasar tersebut sudah pasti merupakan perbuatan yang keji dan pantas dikutuk. Bagaimana tidak, statement tersebut sudah jelas merupakan permainan kata dan memutar balikan fakta. Rupanya, terkadang para pemimpin negara pun bisa juga melakukan permainan play victim kepada masyarakat.

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *