Uncategorized

Perang Mulut Si Prasekolah

pascal-edu.com – Sungguh perlu bersabar diri saat mendengar si prasekolah bersilat lidah dengan temannya. Perdebatan mereka mungkin sesuatu yang enggak penting bagi kita. Namun cobalah pahami bahwa mereka masih dalam fase egosentris. Cara pandang mereka yang masih terbatas membuat anak-anak 3—5 tahun melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandangnya sendiri. Nira menganggap mobil papanya lebih bagus karena berwarna putih, mulus, dan licin. Sementara mobil papa Alika berwarna hitam dan agak kusam karena belum dicuci.

Sementara Alika menganggap mobilnya lebih bagus karena di dalamnya ada perlengkapan elektronik yang memungkinkan ia menonton flm Disney kesukaannya. Padahal belum tentu mobil tersebut bisa dibandingkan karena jenisnya berbeda, yang satu MPV yang lainnya sedan. Pola pandang yang masih terbatas inilah yang lantas menguatkan sikap egosentris si prasekolah. Mereka selalu menganggap perkataannya lebih benar.

Jika dibantah, anak akan berusaha mempertahankannya. “Si lawan” yang sebaya dengannya pun melakukan hal yang sama. Itulah yang menyulut perang mulut lantaran masing-masing ingin pendapatnya diterima. Tak semata hanya karena faktor usia, terkadang perang mulut ini ditiru anak dari lingkungannya. Ingat, di usia ini proses imitasi anak masih sangat kuat. Bila ia kerap menyaksikan orangtuanya beradu argumentasi, misal, kemungkinan dari situlah ia menirunya.

Tetap Perlu Diarahkan

Dengan memahami fase perkembangan prasekolah ini, semoga kita dapat bersikap lebih bijak saat menghadapi perang mulut anak-anak. Tentu, meski ini sebuah hal yang wajar di usia prasekolah, anak tetap perlu belajar bahwa orang lain belum tentu sependapat dengannya. Bagaimana seharusnya ia bersikap, itulah yang perlu kita ajarkan. Yang pasti bukan dengan memaksakan pendapatnya, melainkan dengan menghormati pandangan si lawan bicara. Untuk itu, cobalah ajak anak memandang permasalahan dari sudut si teman.

Misal, “Alika senang nonton flm di dalam mobil, makanya dia bilang mobilnya lebih bagus!” Tak perlu menyudutkan bahwa pendapatnya salah karena dari sisi pandang anak, pendapatnya juga benar. “Mobil kita juga bagus, warnanya putih, warna kesukaan kamu!” Kemampuan untuk mengontrol emosi juga perlu selalu dikembangkan agar anak tak sering terlibat “perang mulut”. Tekankan jika mendapat tentangan, ia tak perlu menggunakan kekerasan fsik (memukul, menjambak, mendorong) supaya pendapatnya diterima.

Tumbuhkan empatinya. “Kalau mobil Adek dibilang jelek bagaimana? Enggak enak kan?” Jika si teman yang justru mengejek, beri si prasekolah tip untuk membalas dengan smart. ”Enggak ada mobil jelek di dunia ini. Yang ada mobil kotor atau bersih. Mobil bagus kalau kotor juga nggak enak dilihat.” Dengan jawaban seperti ini, kita juga mengajarkan soal kebersihan kepada si prasekolah. Betul, kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *