Uncategorized

Akhiri Kampanye Hitam di Dunia Maya

sat-jakarta.com – Kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) saat ini sama dengan pemilihan anggota legislatif (pileg), menjadi pemilu paling konyol dibanding sebelumnya, dan pemerintah sebagai penguasa, belum terlihat berbuat apa-apa. Jika dalam pileg pelanggaran umumnya berbentuk politik uang, dalam proses pilpres ini, beredar secara luas kampanye hitam dan kampanye negatif di dunia maya.

Kampanye negatif, mungkin saja bisa dimaklumi, karena juga terjadi bahkan di negara maju seperti Amerika. Kampanye negatif adalah kampanye yang menonjolkan kekurangan, kesalahan dan serba jelek tentang si calon, yang sebagiannya sudah diketahui publik berdasarkan kenyataan. Ada seorang calon presiden Amerika Serikat yang mundur di tengah jalan, hanya karena ketahuan menyambangi “cem-ceman”- nya, wanita bukan istrinya dan disiarkan oleh media.

Pada masa pilpres beberapa negara, kampanye negatif digunakan untuk menyerang satu pihak dengan tujuan memberi kesan bahwa pihak itu jelek, tidak bermoral, ingkar janji, tidak pantas untuk jadi presiden, bermodalkan fakta masa lalu si calon. Kampanye negatif terhadap Jokowi, misalnya, disebut ingkar janji karena masa jabatan sebagai Gubernur DKI sudah akan ditinggalkan ketika baru menjalaninya 1,5 tahun.

Ia juga disebut bonekanya Megawati, karena Ketua Umum PDP itu yang menyuruh dia nyapres, bukan niat Jokowi sendiri. Dalam kebiasaan kenegaraan, seorang tokoh tidak perlu mencalonkan dirinya sebagai presiden walaupun ia ketua partai. Ia justru berperan sebagai “king maker”, tidak untuk dirinya.

Contoh yang mungkin salah Soeharto bukanlah ketua (partai) Golkar, tetapi dicalonkan menjadi presiden oleh Golkar. Beda dengan SBY, yang membangun Partai Demokrat untuk tujuan (antara lain) menjadi presiden, seperti halnya Prabowo, Wiranto, atau Sutiyoso. Kampanye negatif untuk Prabowo, sisi hitamnya dengan korban penghilangan nyawa secara paksa oleh anak buahnya, juga fakta dipecat sebagai anggota ABRI oleh Wiranto. Juga yang beredar di dunia maya bahwa ia bermasalah dalam kejantanannya karena ketika bertugas di Timor Timur ia sempat ditawan Fretilin. Padahal masalahmasalah itu tidak muncul ketika Prabowo nyapres berpasangan dengan Megawati pada tahun 2009.

Beda dengan kampanye hitam, yang menyerang calon dengan ftnah, dengan tuduhan yang dikarang-karang dan jauh dari fakta. Misalnya saja, Jokowi itu dikatakan non muslim, berasal dari etnis Tionghoa, dan punya nama lain. Padahal kenyataannya Jokowi seorang muslim yang sudah pernah menunaikan ibadah wajib haji, juga beberapa kali umroh, demikian pula istri dan orangtuanya, kerabatnya. Makin mendekati masa pencoblosan, kampanye negatif dan kampanye hitam makin marak, tetapi belum ada tindakan nyata pemerintah sebagai penguasa, dan polisi sebagai penegak hukum.

Memang jika hal itu termasuk dalam delik aduan, polisi akan bersikap menunggu laporan. Tetapi ini masalah besar yang tidak sehat dalam alam demokrasi, yang akan makin parah di hari demi hari sehingga pemerintah, Kementerian Kominfo dan penegak hukum tidak bisa diam saja. Kampanye semacam ini akan menimbulkan perasaan marah dan dendam di hati semua orang, baik yang terkena maupun mereka yang terprovokasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *